Fortis Central Forum
September 19, 2019, 05:01:46 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Brotherhood above all circumtances  -  Fortis Central is Unity
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1]   Go Down
  Print  
Author Topic: Menjadi Trainer Inspiratif  (Read 3924 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Yoyo
Executive Manager
***

Karma: +0/-0
Offline Offline

Posts: 61


Yohanes Tanjung Sarwono


View Profile
« on: May 11, 2009, 12:18:26 PM »

berikut ada artikel singkat tapi sangat menarik

Quote
hmm, menjadi trainer inspiratif bukan persoalan yang mudah apalagi untuk trainer pemula dan baru pertama kali memberikan materi. seorang trainer tidak hanya seperti dosen yang memberikan materi di kelas, atao seorang danlap yang menguasai lapangan dan memerintah trainee’nya untuk melakukan ini itu, dan tidak pula seperti seorang kaka mentor yang bisa membimbing adikmentornya melalui hikmah yang diberikan.

tapi seorang trainer adalah ketiga2nya, dituntut untuk bisa menyampaikan materi, bisa mengkondisikan lapangan (baca: kelas), dan sekaligus bisa membimbing adik2nya. dan mungkin definisi trainer inspiratif menurut persepsi saya adalah hal ini.

1. Penguasaan materi

MAteri menjadi penting untuk dikuasai oleh seorang trainer, karena materi adalah hal yang disampaikan ke peserta untuk dikuasai. selain penguasaan materi perlu juga dikuasai bagaimana menyampaikan materi tersebut. pemilihan metode maupun gaya penyampaian menjadi hal yang penting, karena di sinilah kunci pemahaman peserta terhadap materi yang ada. dengan penyampaian yang baik, keberterimaan materi dapat dirasakan penuh oleh peserta. penyampaian yang baik tentu saja ditunjang dengan penguasaan materi yang baik. cara mudahnya adlah pelajari slide materi, coba perbanyak lagi sumber ato refernsi mengenai materi tersebut, baik dari buku maupun sering ngobrol dengan yang telah berpengalaman.

2. Penguasaan Lapangan

penguasaan lapangan tidak hanya pada bentuk fisik seperti layout ruangan, peralatan tapi juga hal lain seperti kondisi peserta dan olah fisik si trainer itu sendiri. kondisi peserta bisa dilihat dari keadaannya dalam ruangan itu, apakah boring,bete,ato justru sebaliknya lagi semangat2nya..nah di sinilah peran seorang trainer dalam menghidupkan suasana. bagaimana teknik penyampaian, intonasi, maupun joke2 segar serta bermacam simulasi yang bisa diberikan kepada peserta untuk dapat membangkitkan lagi antusiasmenya. dari sinilah trainer bisa ‘menyentuh hati’ mereka, menarik perhatian dgn cara yang enak. misalnya apakah perlu difokuskan,,ato perlu sedikit refresh ato justru ingin membawa peserta dalam suasana tersendiri. Melalui cara seperti itulah peserta bisa melihat apakah training yang diberikan bisa benar2 diaplikasikan.

3. Membimbing Peserta

hal ini sebenarnya adlah inti dari training yang dilakukan bagaimna membimbing peserta agar melakukan atau mengarahkan pada suatu hal yang menjadi materi trainer tersebut. terkadang persoalan 2 di atas sedemikian kompleks, ya ibaratkan menyampaiakan materi seperti seorang dosen, mengatur lapangan layaknya danlap, tapi membimbing di sini, kita layaknya sahabat bagi mereka, mendengar apa yang ereka inginkan dan menjawab apa yg mereka bingungkan. untuk satu tujuan dan niat yang ikhlas. itulah yang benar2 bisa membuat mereka berada dalam ‘genggaman’ kita. sat kita bisa menyentuh hatinya dan menjadi sahabatnya.

Sumber : Klik di sini
Logged

Blom ada untuk saat ini, UNDER DEVELOPMENT!!
Fortis Central
Administrator
*****

Karma: +0/-0
Offline Offline

Posts: 153



View Profile WWW
« Reply #1 on: May 11, 2009, 07:21:52 PM »

Saya secara pribadi menambahkan:

4. Keuletan, Kesabaran dan ketabahan
Pada sebuah situasi dimana yang dibimbing blank sama sekali terhadap materi yang dibawakan, Seorang trainer harus ulet mencari seribu satu cara/metode agar materi tersebut akhirnya tersampaikan. Dengan ditunjang stok kesabaran yang cukup untuk mencoba seribu cara/metode. Dan ketika cara/metode yang keseribu satu akhirnya gagal, maka yang kemudian dibutuhkan adalah ketabahan  :Smiley
Logged

            Fortis Central official website: www.FortisCentral.com
Welly
Executive Manager
***

Karma: +0/-0
Offline Offline

Posts: 64


Welly Pratimbagani, MCP


View Profile
« Reply #2 on: June 01, 2009, 12:21:54 PM »

Saya secara pribadi menambahkan:

4. Keuletan, Kesabaran dan ketabahan
Pada sebuah situasi dimana yang dibimbing blank sama sekali terhadap materi yang dibawakan, Seorang trainer harus ulet mencari seribu satu cara/metode agar materi tersebut akhirnya tersampaikan. Dengan ditunjang stok kesabaran yang cukup untuk mencoba seribu cara/metode. Dan ketika cara/metode yang keseribu satu akhirnya gagal, maka yang kemudian dibutuhkan adalah ketabahan  :Smiley

wahahahah  Grin ini nih sharing nih... yah gut banget wen.. lo akhirnnya sabar juga... tapi trainer yang owen maksudkan itu adalah trainer yang sifatnya lebih ke arah target yang jumlahnya tidak banyak(poin4)... jadi klo kmu ngajari 40 orang satu ruangan yah g perlu bok pendeliki satu-satu Shocked.

Nah tapi klo kasuse tetep aja sama tapi dengan jumlah peserta yang banyak yah bearti kmu harus ngajar dia dari basic(poin1).. paling g klo contoh : tentang project kmu harus kasih tahu dia tentang konsep object dan penggunaanya dalam lingkup user interface...

ingatlah jika jumlah yang ditraining banyak dan cara kita me-training sudah baik maka akan ada peserta yang nyolot untuk menjelaskan ke sesamanya... manfaatkanlah... Kita sebagai trainer harus definitif, deskriptif, kreatif serta selalu terlihat  infinitif, dan di atas semua itu anda harus selalu sadar posisi anda dengan trainee itu apa... kesadaran anda sebagai seorang individu pendidik juga harus ad. dan yang paling penting anda harus berjiwa besar (bung owen tambah besar dong? ...jiwanya) karena bisa jadi diasi trainee ikut belajar tapi merasa terpaksa ditraining...

Sebagai share pribadi, saya pernah ngajar tanpa tahu seluk beluk materi secara sempurna, peserta didik juga sangat bervariasi minat,daya tangkap, pengetahuan, kelakuan dan kemampuannya...( temen saya ada yang pernah nangis tiap ngajar, saya aja sampe kaget ngliatnya, padahal saya selalu ketawa-ketiwi klo ngajar.. anak2 yang kusut kaya keset )

dan hasilnya: yang pintar merasa diberi kesempatan berbicara dan lebih maju lagi Smiley, yang selalu sendirian mengerti apa itu networked Wink, yang kurang mengerti ingin segera mengejar dan bisa mengejar Undecided, yang selalu nyontek ingin juga berkreasi  8)dengan cara mencari kesalahan saya, so mereka juga harus belajar dolo dong wkakakak Grin) , yang putus asa merasa tertantang dan semangat Shocked, yang keminter harus ditundukkan biar seperti padi Grin, yang galak dijadikan pengontrol yang lain Tongue, dsb
Logged
Seraphim
Executive Manager
***

Karma: +0/-0
Offline Offline

Posts: 268


Owen Ario Hendrawan, S.KOM


View Profile
« Reply #3 on: June 02, 2009, 11:49:20 AM »

Ha..ha..ha.. tau aja Bung Welly ini klo pengalaman pribadi.. Tapi eman.. saya gagal membuat diri saya lebih penyabar. Yang saya ambil hikmahnya kemudian: di dunia ini tidak ada pekerjaan yang gampang. Termasuk menjadi seorang IT Consultant. (So wise yo?? hueekk!!)

Tapi kemudian saya segera mencarikan solusi atas hal ini. Sepulang dari proyek di Denpasar beberapa waktu lalu, saya segera mengadakan beberapa kali rapat terbatas dengan beberapa EM. Intinya menggagas sebuah divisi training. Jobdesc seorang trainer selain menyelenggarakan pelatihan kepada user juga mendokumentasikan bug dan error yang lolos Technical Testing.

Sebenarnya bukan hanya masalah Sumber Daya Manusia (dalam hal ini problematika user) yang mendasari kebutuhan akan divisi training? Dari kasus yang saya dan tim alami pada proyek tersebut. Ketika sistem yang dibangun dapat dikategorikan besar, konsentrasi yang dibutuhkan untuk menangani bug dan error dengan segera, disertai dengan kesibukan memberi pelatihan adalah hal yang sangat susah dilakukan bersamaan.
Logged

Welly
Executive Manager
***

Karma: +0/-0
Offline Offline

Posts: 64


Welly Pratimbagani, MCP


View Profile
« Reply #4 on: January 01, 2011, 01:16:53 PM »

Ha..ha..ha.. tau aja Bung Welly ini klo pengalaman pribadi.. Tapi eman.. saya gagal membuat diri saya lebih penyabar. Yang saya ambil hikmahnya kemudian: di dunia ini tidak ada pekerjaan yang gampang. Termasuk menjadi seorang IT Consultant. (So wise yo?? hueekk!!)

Tapi kemudian saya segera mencarikan solusi atas hal ini. Sepulang dari proyek di Denpasar beberapa waktu lalu, saya segera mengadakan beberapa kali rapat terbatas dengan beberapa EM. Intinya menggagas sebuah divisi training. Jobdesc seorang trainer selain menyelenggarakan pelatihan kepada user juga mendokumentasikan bug dan error yang lolos Technical Testing.

Sebenarnya bukan hanya masalah Sumber Daya Manusia (dalam hal ini problematika user) yang mendasari kebutuhan akan divisi training? Dari kasus yang saya dan tim alami pada proyek tersebut. Ketika sistem yang dibangun dapat dikategorikan besar, konsentrasi yang dibutuhkan untuk menangani bug dan error dengan segera, disertai dengan kesibukan memberi pelatihan adalah hal yang sangat susah dilakukan bersamaan.

Trainernya maw orang di luar programmer dan analyst? why not tester? tester is gut trainer. dia tahu seluk beluk penggunaan program, tahu letak kesalahan program, tahu cara mengatasinya dan mengakomodasi hal2 yang muncul tak terduga. hanya saja trainer dari seorang tester perlu diberikan kemampuan komunikasi dan penguasaan suasana, yah maksudnya sedikit skill public relation lah. oyah, jgn lupa dukung trainer anda dengan kelengkapan peralatan, intinya dia tinggal laksanakan acara training tanpa pusing tetek bengeknya. Best Regards n success!!! Oya, ini cm opini, saya selalu bisa salah.


Logged
Pages: [1]   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC
Theme updated by Runic Warrior.  Originally Designed by m3talc0re.
Page created in 0.059 seconds with 21 queries.